PERPUSTAKAAN BABUL ILMI

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

Peran Ibu Mendidik Gen Z di Era Digital


Peran Ibu Mendidik Gen Z di Era Digital 

Oleh : Dr. Salamia, M.Si (IRo-Society Balikpapan – Guru Matematika MTsN 1 Balikpapan)

GENERASI Z tumbuh dalam pusaran teknologi yang terus bergerak maju. Sejak kecil mereka sudah terbiasa dengan gawai, internet, dan media sosial. Dunia digital menjadi ruang bermain sekaligus ruang belajar yang membentuk cara mereka berpikir dan berinteraksi. Namun, di balik peluang besar yang ditawarkan teknologi, ada tantangan yang tidak ringan yaitu kecanduan layar, banjir informasi yang sulit disaring, hingga tekanan sosial dari dunia maya. Dalam situasi ini, ibu hadir sebagai sosok yang paling dekat dan paling berpengaruh dalam mendidik anak-anak agar tidak hanyut dalam arus digital. Kehadiran ibu menjadi penentu arah, karena tanpa bimbingan yang konsisten, anak bisa kehilangan pijakan. Ibu adalah figur yang mampu menyeimbangkan antara kebebasan dan batasan, antara dunia maya dan dunia nyata.

Ibu bukan hanya pengasuh, melainkan pendidik utama yang membentuk karakter sejak dini. Di era digital, peran ini semakin kompleks. Ibu dituntut untuk tidak sekadar mengajarkan nilai moral, tetapi juga membimbing anak agar mampu menggunakan teknologi secara sehat dan produktif. Kehadiran ibu menjadi jangkar yang meneguhkan arah, memastikan anak tidak kehilangan pijakan di tengah derasnya arus informasi. Peran ini tidak bisa digantikan oleh sekolah atau lingkungan luar, karena ibu hadir paling dekat dalam keseharian anak. Dengan kasih sayang dan ketegasan, ibu mampu menanamkan nilai yang bertahan seumur hidup.

Generasi Z memang dikenal sebagai generasi yang cepat beradaptasi. Mereka kreatif, terbuka, dan akrab dengan perubahan. Namun, kedekatan dengan teknologi sering membuat mereka rentan. Informasi yang berlimpah bisa menimbulkan kebingungan, media sosial bisa memicu rasa minder, dan gim online bisa mengganggu prestasi akademik. Di sinilah ibu berperan sebagai penyeimbang. Dengan kepekaan emosional dan kedekatan sehari-hari, ibu mampu membaca tanda-tanda ketika anak mulai terjebak dalam pola yang tidak sehat. Tanpa kehadiran ibu, anak bisa kehilangan arah dan terjebak dalam dunia maya yang penuh ilusi. Ibu menjadi benteng terakhir yang menjaga agar anak tetap berpijak pada realitas.

Peran ibu tidak berhenti pada pengawasan. Lebih dari itu, ibu perlu menjadi teladan. Anak-anak belajar dari contoh nyata. Jika ibu mampu menunjukkan penggunaan teknologi secara bijak—misalnya tidak terlalu lama bermain ponsel saat bersama keluarga, anak akan meniru perilaku tersebut. Sikap sederhana ini memberi pesan kuat bahwa teknologi seharusnya mendukung kehidupan, bukan menguasainya. Teladan ibu menjadi cermin yang membentuk perilaku anak. Tanpa teladan, aturan hanya akan terasa sebagai paksaan.

Selain itu, ibu juga berperan dalam membangun literasi digital. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai, tetapi juga kemampuan berpikir kritis terhadap informasi. Anak perlu diajarkan untuk memverifikasi berita, memahami privasi, dan menyadari dampak dari setiap jejak digital yang mereka tinggalkan. Dengan bimbingan ibu, anak belajar bahwa dunia maya bukan sekadar ruang hiburan, melainkan ruang yang menuntut tanggung jawab. Literasi digital yang ditanamkan ibu akan menjadi bekal penting bagi anak menghadapi masa depan. Tanpa literasi, anak mudah terjebak dalam arus hoaks dan manipulasi. 

Strategi praktis bisa dimulai dari hal sederhana. Ibu dapat membuat aturan penggunaan gawai, misalnya jam khusus untuk belajar, bermain, dan beristirahat. Aturan ini membantu anak belajar disiplin. Ibu juga bisa mengajak anak berdiskusi tentang konten digital yang mereka konsumsi. Alih-alih melarang, dialog terbuka membuat anak merasa dihargai dan lebih terbuka. Selain itu, ibu perlu mendorong aktivitas offline seperti olahraga, membaca buku, atau kegiatan seni. Aktivitas ini menjaga keseimbangan agar anak tidak hanya bergantung pada dunia digital. Dengan strategi sederhana namun konsisten, ibu mampu membentuk kebiasaan sehat. Kebiasaan ini akan menjadi fondasi karakter anak di masa depan.

Tidak kalah penting, ibu bisa menggunakan teknologi bersama anak. Menonton film edukatif, bermain gim yang mendidik, atau mengikuti kursus online bersama dapat memperkuat ikatan emosional sekaligus memberi pengalaman positif dengan teknologi. Dengan cara ini, anak belajar bahwa teknologi bisa menjadi sarana kebersamaan, bukan pemisah. Kehadiran ibu dalam aktivitas digital anak membuat mereka merasa didukung. Anak tidak merasa diawasi, tetapi ditemani. Pendekatan ini lebih efektif daripada sekadar memberi larangan. Peran emosional ibu juga sangat krusial. Generasi Z sering menghadapi tekanan dari media sosial: standar kecantikan, pencapaian, hingga gaya hidup. Ibu perlu hadir sebagai pendengar yang empatik, memberikan dukungan emosional, dan menegaskan bahwa nilai diri anak tidak ditentukan oleh jumlah “likes” atau “followers”. 

Kehadiran ibu memberi rasa aman, mengingatkan bahwa kehidupan nyata lebih penting daripada citra digital. Dukungan emosional ini menjadi benteng yang melindungi anak dari krisis identitas. Tanpa dukungan, anak bisa kehilangan rasa percaya diri dan mudah terpengaruh. Namun, mari kita akui, tidak semua ibu siap menghadapi tantangan ini. Banyak yang masih gagap teknologi, merasa tertinggal, atau bahkan menyerah pada arus. Karena itu, dukungan sosial sangat penting. Komunitas, sekolah, dan pemerintah perlu memberi ruang bagi ibu untuk belajar. Literasi digital bukan hanya untuk anak, tetapi juga untuk orang tua. Dengan bekal pengetahuan, ibu lebih percaya diri mendampingi anak. Dukungan sosial ini menjadi kunci agar ibu tidak merasa sendirian. Ketika ibu berdaya, anak pun akan lebih terlindungi.

Di beberapa daerah, sudah muncul komunitas parenting digital yang mengajarkan cara aman menggunakan media sosial. Inisiatif seperti ini perlu diperluas. Program pelatihan digital bagi ibu rumah tangga bisa menjadi solusi. Dengan pengetahuan yang memadai, ibu mampu berdialog dengan anak tentang dunia digital, bukan sekadar mengawasi dari jauh. Program semacam ini akan memperkuat peran ibu sebagai pendidik utama. Tanpa dukungan sistemik, ibu akan kesulitan menghadapi tantangan digital. 

Generasi Z akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas digital sekaligus berkarakter kuat, apabila peran ibu dijadikan sebagai pusat perhatian. Ibu bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi. Tanpa ibu yang melek digital, anak akan mudah hanyut dalam arus teknologi. Kita sering membicarakan revolusi industri 4.0, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi digital. Namun, semua itu akan sia-sia jika generasi penerus kehilangan arah. Ibu adalah benteng terakhir untuk menjamin bahwa teknologi adalah alat, bukan penguasa.

Era digital memang membawa peluang besar, tetapi juga tantangan yang tidak ringan. Di tengah semua itu, ibu tetap menjadi jangkar yang meneguhkan arah. Ibu mendidik bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan teladan. Ibu menjaga bukan hanya dengan aturan, tetapi dengan kasih sayang. Mendidik Gen Z di era digital bukan sekadar soal mengatur penggunaan gawai, tetapi juga membangun manusia seutuhnya yang berpengetahuan, beretika, dan berempati. Peran ibu adalah fondasi yang tidak tergantikan. Tanpa ibu, generasi penerus akan kehilangan arah. Mendidik Gen Z di era digital adalah tugas bersama, tetapi ibu tetaplah garda depan. Masa depan bangsa ada di tangan generasi muda, dan generasi muda ada di tangan ibu.

Sumber : https://kaltimpost.jawapos.com/opini/2387168725/peran-ibu-mendidik-gen-z-di-era-digital

Admin Perpustakaan Babul Ilmi

PERPUSTAKAAN BABUL ILMI
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?